Menghilangkan Sifar Kikir

Imam ghazali dalam karyanya ihya ulumuddin menginfentarisir berbagai watak dan karakteristik manusia yang berbahaya. Satu di antaranya adalah sifat bakhil (kikir). Dikatakan demikian tentunya bukan tanpa alasan. Rasulullah SAW telah mengingatkan kita untuk mewaspadai sifat yang satu ini, karena jika sedetik saja kita lengah, akibatnya sangat fatal. Imbas buruknya tidak hanya menimpa pribadi2. Tapi juga menimpa kehidupan sosial masyarakat kita. “hindarilah sifat kikir. Sesungguhnya orang2 sebelum kamu ditimpa bencana karena sifat kikir mereka” (HR. Hakim)
Kebenaran hadits tersebut hingga sekarang ini masih relevan masih kita rasakan. Sejenak, mari kita renungi apa yang sedang terjadi di tengah kehidupan masyarakat kita. Garis kemiskinan kian menebal, jumlah pengangguran semakin menumpuk dari waktu ke waktu, belum lagi dengan merebaknya kasus kriminalitas di mana-mana. Atau semakin merajalelanya praktek2 prostitusi di berbagai daerah. Semua itu merupakan bencana yang tengah menimpa kita semua.
Mengapa sampai terjadi demikian ? bila diruntut2, ternyata faktor penyebabnya adalah hilangnya rasa kepedulian sosial yang hampir meliputi semua lini kehidupan. Gaya hidup seperti nafsi-nafsi (sendiri-sendiri) sudah menjadi tren budaya masyarakat ini. Banyak orang yang lebih senang mementingkan kepentingan pribadi atau golongan, dibanding memperhatikan kemaslahatan bersama. Si kaya makin menampakan ketamakannya, tidak mau memberikan ‘kail’ buat si miskin. Yang kuat tidak lagi mau berempati kepada yang lemah.
Akibatnya, orang2 lemah semakin tak berdaya. Seingkali karena tak sabar menanggung ujian, sebagian orang menempuh jalan pintas. Demi sesuap nasi, banyak orang yang nekad menjual diri. Demi sekedar menutupi kebutuhan keluarga, orang berani melakukan tindakan kejahatan. Bahkan demi sebetik kesejahteraan, orang menghalalkan cara2 yang tidak halal. Tragisnya, sejenak kesejahteraan itu tercapai, namun cara2 mencari rezeki yang tak wajar itu masih terus dilanjutkan. Tak pelak lagi, kelakuan kejahatan pun menjadi profesi, na’udzubillahi min dzalik
Sifat keserakahan dari orang2 yang tidak mempunyai hati nurani dan kepedulian ini telah menimbulkan berbagai ketimpangan dan kesenjangan sosial. Kecemburuan makin mendalam, kedengkian makin merusak hati, dan entah berapa banyak lagi akibat buruk lain dari sifat tak terpuji ini.
Bila sifat kikir terus berkembang dan membentang luas di semua lini kehidupan, maka dapat dibayangkan, betapa semakin kacaunya kehidupan ini. Untuk itu Nabi SAW mengingatkan “tidak akan masuk surga orang yang kikir dan bakhil” (HR. Tirmidzi)
Dalam kenyataan hidup ini, rezeki manusia tidaklah sama. Sudah sunnatullah, ada yang kaya dan juga ada yang miskin. Itulah nuansa dan panorama kehidupan di dunia. Seringkali perbedaan itu menimbulkan persaingan ketat dalam kehidupan masyarakat ini. Namun demikian, tidak berarti yang lemah harus semakin sengsara. Untuk itu islam memberikan solusi, bahwa untuk meredam gejolak sosial, islam telah mensyariatkan shadaqah.
Bila kesadaran berzakat, berinfak dan bershadaqah membudaya, tentu saja berbagai kesenjangan tidak harus terjadi. Adanya perhatian orang berada terhadap kaum dhuafa semakin merekatkan hubungan keakraban sosial kita. “pemberian terhadap orang miskin merupakan sedekah, tetapi jika diberikan kepada famili, ia merupakan sedekah, sekaligus perekat ukhuwah (silaturrahim)” (HR.Tirmidzi dan Nasa’i)
Batin bisa terekat dengan adanya solidaritas. Selalu, apabila seseorang itu pemurah, batinnya semakin tenang dan bahagia, karena ia bisa menolong orang lain. Kesenangan hati membuat batin dan fisik menjadi sehat. “obatilah penyakitmu dengan memberikan sedekah kepada orang lain (HR.Abu Dawud)
Berangkat dari kemaslahatan inilah, sejak islam mencanangkan anti kebakhilan, untuk menghindari sifat buruk tersebut, imam ghazali memberikan beberapa terapi sebagai berikut :
Pertama, mengingat kematian, dengan mengingat akhirat, seseorang akan terhindar dari sifat tamak dan serakah terhadap harta dunia. Keimanan yang kuat menghantarkan setiap kita kepada kesadaran reliji, bahwa kehidupan dunia ini hanya sementara. Yang terpenting dan utama adalah mempersiapkan bekal menuju kehidupan akhirat yang abadi. Allah berfirman :
بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ ١
وَمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَآ إِلَّا لَعِبٞ وَلَهۡوٞۖ وَلَلدَّارُ ٱلۡأٓخِرَةُ خَيۡرٞ لِّلَّذِينَ يَتَّقُونَۚ أَفَلَا تَعۡقِلُونَ ٣٢
Artinya : Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya (QS. Al an’am :32)
Kedua, dermawan, sifat kikir dalam jiwa seseorang berangkat dari ego yang berlebihan. Orang sering mementingkan sendiri. Dengan menyadari bahwa di dalam rezeki kita terdapat hak orang lain, dapat menghilangkan sifat kikir.
Ketiga, memahami agama secara benar, orang kerap kali merasa tidak bersalah bila dirinya dihinggapi sifat kikir. Karena ia selalu beranggapan bahwa semua rezeki yang diusahakannya adalah hasil dari jerih payahnya. Sedangkan orang lain yang membutuhkan uluran tangannya dianggap tidak mempunyai hak.
Egosentris yang berlebihan ini berangkat dari kurangnya pemahaman terhadap ajaran agama. Dalam islam, harta yang kita miliki adalah titipan. Bila pemahaman ini dimiliki, selamanya kita tidak akan didiminasi oleh penyakit bakhil. Allah SWT berfirman :
بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ ١
وَفِيٓ أَمۡوَٰلِهِمۡ حَقّٞ لِّلسَّآئِلِ وَٱلۡمَحۡرُومِ ١٩
Artinya : Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian (QS. Adz dzariyat : 19)
Keempat, menyadari akibat buruk dari sifat bakhil. Tidak dinafikan, perilaku kikir mengundang bencana dan melapetaka bagi kehidupan manusia. Bila sifat kikir ini melanda masyarakat kita, akan terbuka berbagai kesenjangan dan pergolakan sosial. Lebih dari itu, pelakunya pun didera oleh hukuman masyarakat, dikucilkan dari kehidupan sosial. Sedangkan dalam agama, kedudukannya tak lebih dari orang yang mendustakan agama, alquran mengecamnya sebagai “orang celaka” :
بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ ١
أَرَءَيۡتَ ٱلَّذِي يُكَذِّبُ بِٱلدِّينِ ١ فَذَٰلِكَ ٱلَّذِي يَدُعُّ ٱلۡيَتِيمَ ٢ وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ ٱلۡمِسۡكِينِ ٣ فَوَيۡلٞ لِّلۡمُصَلِّينَ ٤ ٱلَّذِينَ هُمۡ عَن صَلَاتِهِمۡ سَاهُونَ ٥ ٱلَّذِينَ هُمۡ يُرَآءُونَ ٦ وَيَمۡنَعُونَ ٱلۡمَاعُونَ ٧
Artinya : 1. Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama, 2. Itulah orang yang menghardik anak yatim, 3. dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin, 4. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, 5. (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, 6. orang-orang yang berbuat riya, 7. dan enggan (menolong dengan) barang berguna (QS. Al ma’un : 1-7)
Kelima, bangga dapat berbuat yang terbaik buat orang2 dhuafa, dalam kondisi seperti ini, menurut imam ghazali, seseorang itu melakukan perbuatan baik itu memang dengan ria. Tapi tujuannya positif, yaitu hendak menghilangkan kekikiran. Namun begitu, sifat ingin dipuji tidak boleh tidak boleh berkelanjutan. Setelah seseorang merasa senang memberi bantuan kepada orang lain, selanjutnya ia alihkan sifat ria itu pada sifat ikhlash. :
 بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ ١  
قُلِ ٱللَّهَ أَعۡبُدُ مُخۡلِصٗا لَّهُۥ دِينِي ١٤
Artinya : Katakanlah: "Hanya Allah saja Yang aku sembah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku" (QS. Az zumar : 14)
Akhirnya setiap kita berharap semoga Allah SWT menjauhkan kita dari berbagai sifat tercela, dan memberikan kita kekuatan untuk menjadi figur2 hamba yang dapat menjalankan segala amanah-Nya dengan sebaik-baiknya. Aamiin ya mujibassailin
Sumber :
Rubrik takwin oleh Ikhwan Fauzi pada majalah sabili edisi no. 11 th.x 12 desember 2002/ 7 syawal 1423


Comments

Popular posts from this blog

change the world