Definisi dan sejarah kaligrafi
Definisi
kaligrafi
Kaligrafi, yang merupakan serapan dari bahasa
inggris, calligraphy dapat diartikan sebagai seni tulisan indah. Calligraphy
berasal dari bahasa yunani yaitu kalios (indah) dan graphia
(coretan atau tulisan)
Sedangkan dalam bahasa arab kaligrafi ini
diistilahkan dengan khat (tulisan atau garis), yang dimaksud di sini
adalah tulisan yang indah. Pengertian istilah khat pertama dikemukakan
oleh syamsuddin al akfani dalam bukunya berjudul al irsyad al qashid,
yang merupakan karangan dalam bidang
akhlak tasawuf pada bab hasyru al ‘ulum ia mengatakan :
“khat adalah ilmu yang menerangkan bentuk2 huruf
tunggal, penempatannya, cara merangkainya menjadi tulisan, atau apa yang
ditulis dalam baris2, bagaimana cara menulisnya dan menentukan mana yang tidak
perlu ditulis, mengubah ejaan yang perlu digubah dan bagaimana cara
mengubahnya“
‘ubaidullah bin abbas menyebutnya sebagai “lidahnya tangan“
karena dengan tulisan itulah tangan berbicara. Dalam berbagai seloka, seni
kaligrafi atau khat dilukiskan sebagai kecantikan rasa, duta akal,
penasehat pikiran, senjata pengetahuan, penjinak saudara dalam pertikaian, pembicaraan
jarak jauh, penyimpan rahasia dan khazanah berbagai masalah kehidupan.
Ringkasnya sebagaimana yang dikatakan sebagian ulama bahwa “khat itu ibarat roh dalam tubuh”
Yaqut al mu’tashimi al khattath (w.698H/1298M) mempersyaratkan bahwa suatu
tulisan disebut indah bila karya tersebut membiaskan pengaruh keindahannya
kepada hati, jiwa dan pikiran, seperti pengaruh dakwah yang dipantulkan dari
tulisan kaligrafi yang indah. Kata kata yang paling masyhur dari yaqut ini
adalah
الخط هندسة روحانية ظهرة بألة جسمنية
“kaligrafi adalah arsitektur ruhani yang lahir melalui peralatan
kebendaan”
Di dunia islam kaligrafi sering disebut seninya
seni islam yang merupakan suatu klasifikasi dan penilaian yang menggambarkan
kedalaman makna yang essensinya berasal dari keseluruhan nilai dan keimanan.
Seni kaligrafi yang merupakan kebesaran seni
islam, lahir di tengah2 arsitektur dengan segar bugar, ini dapat dibuktikan
pada aneka ragam hiasan kaligrafi yang memenuhi dinding masjid2 dan bangunan2
lainnya, yang ditumpahkan dalam paduan ayat2 al quran yang mulia, hadis2 atau
kata2 hikmah para ulama. Demikian pula mushaf2 al quran banyak ditulis dengan
berbagai macam model kaligrafi yang disapu dengan corak2 hiasan yang mempesona
sejarah
kaligrafi
akar kaligrafi arab (juga disebut kaligrafi islam)
adalah tulisan hieroglif mesir (kana’an, semit), lalu terpecah menjadi khat
feniqi (fenisia) yang terpecah lagi menjadi arami (aram) dan musnad
(kitab yang memuat segala macam hadis)
menurut al maqziri (1364-1442), seorang
ahli sejarah abad ke 4 musnad adalah kaligrafi yang mula2 dari sekian
banyak khat yang dipakai oleh
masyarakat himyar (suku yang mendiami semenanjung arabia bagian barat daya) dan
raja2 suku ad (hadramaut utara)
dari tulisan tua musnad yang berkembang di yaman
lahirlah khat kufi (kufah). Ibnu washyiyah an nabt pengarang
kitab al fallahah an nabatiyyah menyimpulkan bahwa peletak dasar2 khat kufi
adalah nabi ismail AS bin ibrahim AS.
Sebelum kedatangan islam, bangsa arab kurang
terbiasa membaca dan menulis, mereka lebih menyukai tradisi menghafal, hanya
sedikit di kalangan tertentu, seperti di kalangan bangsawan arab yang menguasai
keterampilan membaca dan menulis. Sampai pada masa kedatangan islam, yakni
zaman Rasulullah SAW dan khulafaurrasyidin corak kaligrafi masih kuno dan
mengambil nama2 yang dinisbatkan kepada nama2 tempat dimana tulisan itu
dipakai, seperti makki (tulisan mekah), madani (madinah), hijazi
(hijaz) dan kuffi (kufah). Kuffi merupakan tulisan paling
dominan dan satu2nya tulisan yang “dirajakan” untuk tulisan mushaf alquran
sampai akhir kekuasaan
khulafaurrasyidin.
Dalam alquran, perintah tulis baca sangat
ditekankan yang tersimpul dalam wahyu pertama QS. Al’alaq:1-5. Hal ini
memberikan indikasi bahwa masalah baca tulis merupakan sebuah cara untuk
mendapatkan berbagai ilmu. Atau dengan kata lain baca tulis merupakan salah
satu kunci yang paling dasar dalam memperoleh berbagai ilmu pengetahuan.
Batas pandang agama terhadap seni tulis indah
terukur dalam pandangan alquran dan hadis. Dorongan2 lain misalnya datang dari
ayat2 alquran yang menyimpulkan kegiatan dan peralatan baca tulis seperti nun
atau midad (tinta), sedangkan pada bagian lain disebut qalam (pena),
katib (penulis) dan yasturun (menggores). Sedangkan alat untuk
menulis digunakan kata2 qirthas (kertas), lauh (papan), raqq (kulit
halus) dan suhuf (lembaran/gulungan).
Dalam berapresiasi, para seniman muslim mengiaskan
komponen2 tersebut kepada rupa2 media seperti kuas, cat, kanvas, fiber, kaca,
stucco, arabesk dan segala macam untuk mematri huruf yang menjadi objek
garapan. Dorongan dari Rasulullah SAW tampak dari beberapa sabdanya
“kaligrafi yang bagus akan menambah kebenaran
menjadi nyata” (HR.Dailami dalam musnad al firdaus)
“ikatlah ilmu dengan tulisan” (HR.Tabrani dalam al
kabir)
“keindahan tulisan adalah warisan kamu, ia adalah
salah satu mata pencaharian”
Di masa khalifah usman, tulisan mushaf masih
gundul/tidak berharkat. Untuk menghindari salah baca, abu al aswad ad duali
merumuskan tanda2 baca/harkat dan titik atas perintah khalifah ‘ali bin abi
thalib. Tugas ini dilanjutkan oleh kedua orang muridnya yaitu nasir bin ashim
dan yahya bin ya’mur dan disempurnakan oleh khalil bin ahmad bin amr bin tamim
al azdi. Sistem tanda baca ini telah memberikan nilai tersendiri pada corak
ragam kaligrafi yang digarap oleh kaligrafer atau seniman.
Memasuki zaman kekhalifahan bani umayyah,
mulai ada ketidakpuasan terhadap khat kufi yang dianggap terlalu kaku
dan sulit digoreskan. Lalu dimulailah pencarian bentuk2 yang dikembangkan dari
gaya tulisan lembut non-kuffi, sehingga lahirlah banyak gaya, yang terpopuler
adalah tumar, jali, tsuluts dan tsulutsain. Tokoh kenamaan kaligrafi
bani umayyah adalah qutbah al muharrir sedangkan kalifah pertama bani
umayyah yaitu muawiyah bin abu sufyan adalah pelopor pendorong diusahakannya
pencarian bentuk2 baru kaligrafi tersebut.
Pada masa daulah abbasiyah, dikembangkan lagi
gaya2 baru dan memodifikasi bentuk2 lama yang menghasilkan
khafif tsuluts
khafif tsulutsain
riyasi dan
al qalam as sittah yaitu :
tsuluts
naskhi
muhaqqaq
raihani
riq’ah
tauqi’
tokoh terkemuka di zaman ini adalah al ahwal
bin bawwab dan yaqut al musta’shimi. Pada kenyataannya, ranting2
tulisan yang tumbuh sampai masa ibnu muqlah, tokoh terbesar dan bapak kaligrafi
arab, berjumlah lebih dari 300 jenis.
Melalui tangan ibnu muqlah, kaligrafi
didesain menjadi bentuk2 geometris. Huruf2 diberi ukuran menurut kadar tipis
tebal, panjang pendek, serta lengkungan goresan secara pasti, sehingga
menghasilkan bentuk anatomi yang seimbang. Rumus ibnu muqlah ini dinamakan dengan
al khat al mansub yang terdiri dari komponen alif, titik belah ketupat,
dan standar lingkaran.
Sementara itu di wilayah islam bagian barat yang
mencakup negara2 yang dekat dengan mesir, termasuk andalusia spanyol, pada abad
pertengahan berkembang bentuk tulisan yang disebut khat maghribi atau kufi
barat, terdiri atas cabang2 khat qairawani, andalusi, fasi dan sudani.
Di sini telah dikembangkan pula tsuluts andalusi dan naskhi
andalusi.
Selanjutnya pertumbuhan kaligrafi memasuki tahap2
konsolidasi dan penghalusan untuk menghasilkan karya2 masterpiece di
zaman kerajaan2 persia seperti ilkhamid (abad ke-13), timuri (abad ke-15), dan
safawi (1502-1736) dan beberapa dinasti lain seperti mamluk mesir dan suriah
(1250-1517), turki usmani (abad ke-14-20),
sampai kerajaan islam mogul india (abad ke-15-16) dan afganistan. Di masa ini
lahir karya2 besar yang menunjukan puncak kreasi agung seniman kaligrafi dan
sekaligus menjadi lambang semangat islam. Pada masa ini tumbuh gaya2 tulisan
seperti farisi ta’liq, nasta’liq, gubar,
Gubar ta’liq, jali, anjeh ta’liq,
sikasteh, sikasteh ta’liq, tahriri, diwani, diwani jali, dan lain-lain. Khusus di india muncul khat
behari, kufi herati, naskhi india, dan tsuluts india. Di tiongkok,
masyarakat muslim cina mengembangkan khat sini, yang merupakan kombinasi
huruf arab dengan gaya tulisan cina. Tokoh2 kaligrafi di masa ini adalah al
jamali (ilkhanid), umar aqta (timurid), mir ali tabrizi dan imaduddin al
husaini (safawi), muhammad ibnu al wahid (mamluk), hamdullah al amaasi, ahmad
qurahisari, hafidz, usman, abdullah zuhdi, hamid al amidi, dan hasyim muhammad
al baghdadi (turki usmani-turki modern).
Sekarang, sebagian dari gaya yang semula berjumlah
ratusan itu telah punah, kini tinggal gaya yang paling fungsional di dunia
islam yaitu naskhi, tsuluts, raihani, diwani, diwani jali, riq’ah dan kufi.
Bahasa2 yang menggunakan kaligrafi arab menurut
catatan Dr. Muhammad thahir kurdi (penulis mushaf mekah al mukarramah dan
pengarang kitab tarikh al khat al arabi) terdiri atas lima kelompok :
1.
Kelompok bahasa2 turki
2.
Kelompok bahasa2 hindia (termasuk pegon/melayu/jawa)
3.
Kelompok bahasa2 persia
4.
Kelompok bahasa2 afrika
5.
Bahasa arab itu sendiri
Kaligrafi kontemporer yang banyak dimuat dalam
aneka media terus dikembangkan dalam bentuk2 kategori tradisional, figural,
ekspresionis dan simbolis, kadangkala mendobrak batas2 gaya terdahulu. Hadir pula
istilah “pemberontakan” yang menimbulkan keinginan ‘uzlah (memisahkan
diri) dari bentuk2 baku dan klasik. Bentuk2 pemberontakan sering tampak :
1.
Dalam pengolahan huruf2 yang menolak anatomi
kaidah khat seperti yang telah dirumuskan oleh ibnu muqlah sehingga
jenis khatnya tidak mudah lagi diidentifikasi
2.
Mempertahankan penggunaan khat baku, namun
menempatkannya dalam variasi2 pengolahan yang puspagram, sehingga sebuah karya “tidak
hanya selesai pada huruf” tetapi huruf dikombinasikan dengan latar belakangnya
untuk alasan penyatuan (wadah)
Di indonesia, corak kontemporer ini sering
diistilahkan dengan “lukisan kaligrafi” untuk membedakannya dengan “kaligrafi
murni” yang telah dibakukan sejak zaman ibnu muqlah.
Sumber :
Al-qaththan, manna’ kholil, studi ilmu-ilmu
alquran, ter-mudzakkir AS, jakarta : litera antar nusa. 1992
Redaksi ensiklopedi islam, ensiklopedi islam, jakarta
: PT. Ikhtiar baru van hoeve, 1993


Comments
Post a Comment