kisah inspiratif khalifah Umar Bin Khattab
Setelah memasukkan pedangnya ke warangka, umar bin khattab mengikatkan senjata itu di pinggang. Sebuah busur panah ia selendangkan di punggung. Di tangan kirinya tergenggam sebuah anak panah runcing dan tajam. Di tangan kanannya ia memegang tongkat yang ukurannya cukup panjang.
Sejenak Umar memandangi pintu rumah nya yg sudah tertutup. Setelah mendesah panjang, laki2 yg dijuluki Rasulullah saw dengan al faruq itu segera bergegas menuju ka'bah. Disaksikan sekelompok pemuka kafir quraisy, ia thawaf mengitari baitullah dengan tenang tanpa rasa takut sedikit pun. Selesai melaksanakan thawaf, ia letaKan pedang, busur dan tongkatnya di tanah, lalu melaksanakan shalat 2 raka'at.
Para pemuka quraish hanya memandang sinis apa yg dilakukan umar. Tak seorang pun dari mereka berani mencegah atau melakukan tindakan apa pun terhadap umar yg menantang mereka.
Cukup sampai di situ tantangan umar? Tidak! Begitu selesai shalat, ia segera mengambil senjatanya. Ia berdiri tegar di hadapan sekelompok kafir quraish seraya berseru lantang dan berani "wahai wajah2 celaka! Barang siapa yang ingin ibunya kehilangan anak, atau istri nya menjadi janda, atau anak nya kehilangan ayah, hendak lah ia menghadang ku di balik lembah ini".
Umar memandang berkeliling, lalu meninggalkan tempat itu. Lama ia menunggu di balik lembah yang ia maksud, tapi tak seorang pun dari kafir quraish yang berani menjawab tantangan nya. Dengan penuh kemenangan, umar berangkat ke madinah, menyusul kaum muslimin yang telah hijrah lebih dahulu.
Keberanian, itulah ibroh yang bisa dipetik secara langsung dari kisah umar bin khathab di atas. Ali bin abi thalib meriwayatkan bahwa setelah peristiwa tersebut, kaum muslimin mulai berbondong2 melakukan hijrah ke madinah. Walaupun sebagian besar dari mereka melakukan nya secara sembunyi2, tapi tak dapat dipungkiri, keberanian umar, menjadi faktor utama selain perintah allah bagi kaum muslimin untuk melakukan hijrah.
Dewasa ini, kehadiran sosok seperti umar bin khathab menjadi keniscayaan bagi kaum muslimin. Di tengah segala himpitan dan tekanan musuh2 Allah terhadap umat islam, baik secara politik, ekonomi maupun sosial, kaum muslimin harus melahirkan dan mencetak kader2 berani. Yaitu mereka yang tidak takut menghadapi tekanan, tudingan atau pun ancaman.
Justru di saat berada dalam keadaan disudutkan, ditekan dan dianggap pelaku segala kejahatan, kita harus berani menunjukkan jati diri yang sebenarnya. Apa yang dilakukan nabi ibrahim ketika ditanya siapa pelaku penghancuran berhala, patut kita renungi. Dengan lantang dan berani ia menjawab, "patung yang besar itulah yang melakukan nya" jawaban sekaligus ejekan! Karena seonggok patung tidak mungkin menjawab.
Musuh2 islam yang saat ini melancarkan propaganda harus dihadapi. Ketidakmampuan tak selama nya mengharuskan tiarap. Kekuatan lawan yang lebih besar jangan sampai mengundurkan agenda dakwah. Walaupun nabi ibrahim tahu bahwa kekuatan lawan jauh lebih besar, tapi tidak membuat nya ragu untuk mengatakan kebenaran.
Meski umar bin khathab maklum kalau para pemuka quraish mengeroyoknya, ia pasti kewalahan.
Ketika dipaksa untuk mengatakan bahwa alquran adalah makhluk, imam ahmad menolak dengan tegas walaupun harus mendekam di penjara. Keadaan darurat tidak membuat nya mundur. Karena, kebenaran harus ditegakkan, dalam keadaan apapun. Itulah yang membuat para pendahulu kita berbuat demikian.
Karenanya, para penegak dakwah yang sekarang berada di atas panggung, jangan sampai tiarap. Selain akan membuat umat bingung, mereka juga akan dicatat sejarah sebagai pengecut yang tidak layak diteladani generasi berikutnya. Bahkan bisa menjadi dalil pembenaran pada dekade berikutnya. Inilah yang dikhawatirkan imam ahmad mengapa ia tetap bersikukuh pada pendapatnya.
Namun demikian, keberanian saja tidak cukup. Para penegak dakwah harus mampu bermain cantik dan taktis. Mungkin di antara kita, ada yang membandingkan hijrah umar bin khathab dengan rasulullah saw. Mengapa umar berhijrah secara terang terangan sambil menantang kaum kafir tanpa rasa takut sedikit pun, sedangkan Rasulullah saw berhijrah secara sembunyi -sembunyi? Apakah umar lebih berani dari Rasulullah?
Jawaban nya, umar tidak lah sama dengan rasulullah saw. Apa yang dilakukan umar adalah tindakan pribadi, tidak menjadi hujjah syar'iyyah. Ia boleh memilih salah satu dari beberapa cara, sarana dan gaya yang sesuai dengan kapasitasnya. Berbeda dengan rasulullah saw, beliau adalah orang yang bertugas menjalankan syariat dan melaksanakan nya. Seandainya Rasulullah saw bertindak seperti umar, tentu kaum muslimin mengira tindakan itu wajib, dan tidak boleh mengambil tindakan Hati2 dan bersembunyi ketika dalam bahaya. Padahal Allah menegakkan syariat Nya berdasarkan tuntutan sebab akibat. Karena nya, Rasulullah saw menggunakan semua sarana yang secara rasional tepat dan sesuai dengan tindakan nya. Beliau meminta Ali bin abi thalib untuk tidur di tempat tidur nya menggunakan selimut Rasulullah saw untuk mengelabui musuh yang sedang mengepung nya. Beliau juga bersembunyi di gua tsur yang secara geografis berlawanan letak nya dengan arah yang ditujunya agar tidak mudah ditemukan lawan. Beliau juga mengutus asma binti abu bakar. Selain untuk memantau keadaan musuh, asma juga bertugas menyuplai makanan buat Rasulullah saw dan abu bakar. Sehingga selama 3 hari di gua tsur mereka tidak kelaparan.
Rasulullah saw melakukan itu bukan karena takut akan tertangkap lawan. Buktinya, walaupun telah mengerahkan segala upaya, kalau tidak karena bantuan Allah, Rasulullah saw dan abu bakar hampir dapat ditemukan oleh para pengejarnya. Saking dekat nya musuh, sampai abu bakar pernah bercerita, "kalau mereka melihat ke bawah, pasti mereka akan melihat kami" bahkan walaupun telah menyewa seorang penunjuk jalan, suraqah bin malik berhasil mengejar mereka. Kalau bukan mukjizat dari Allah, tidak mustahil Rasulullah saw dan abu bakar akan tertangkap. Karena nya, berhati2 adalah sesuatu yang harus dimiliki setelah keberanian. Setelah semua itu dilaksanakan, baru pertolongan Allah akan datang.
Akhirnya, menghadapi berbagai propaganda musuh yang terus berlangsung, tidak membuat nyali kita ciut dan melempem dan mendaftarkan diri menjadi orang pengecut. Keberanian seperti yang ditampakkan umar dalam kisah di atas seharusnya dimiliki oleh kaum muslimin, khususnya juru dakwah. Todongan dan tudingan yang kadang kala kita khawatirkan akan mengancam keselamatan, tidak menjadikan kita surut dalam melangkah. Namun demikian, kecerdikan dan kehati2an menjadi hal yang mesti dimiliki kaum muslimin. Melangkah dengan berani dan penuh kewaspadaan, itulah yang akan mengantarkan kita menjemput kemenangan ......
Comments
Post a Comment